Aku buka buku, dihempas silir angin aku duduk. Beralaskan sebuah pasir, kaki ini me- nancap dalam, jauh ke dalam. Daun-daun memanggil-manggil ombak yang tak akan per-nah tahu di mana ia akan jatuh mempertegas jalannya hidup ini, tak tahu arah, dan akan terus mengalir.
Ayah sudah dua hari melaut, melihat kepergian ayah yang meninggalkan dua orang anak dan ibuku yang masih terbaring lemah, sakit. Aku selalu berharap kepergian ayah ke ga-ris cakrawala itu menjadi berkah dan tentunya keselamatan. Tentunya ibu yang banyak, ataupun sedikit, ibu ingin semua anggota keluarganya tercukupi.
Angin sejuk menggelitik membuat tanganku tergerak mengambil pena di sampingku, dan ku pun mulai menulis
gong, gong, gong
tek, tek, tek
ayah menggendong adik
tersembunyi
dalam lamunan ayah berlari
kencang
tetapi ia selalu kembali datang
mungkin ayah akan datang hari ini, sepengetahuanku, aku hanya membuat bekal hanya untuk dua atau tiga hari –jika ayah tidak terlalu lapar.
Ayah sudah semakin jarang melaut, kesehatan ayah yang semakin memburuk meng-haruskan ayah beristirahat satu atau sampai tiga hari. Solar yang dipakai ayah melaut juga semakin membumbung tinggi, hanya membuat keluarga kami semakin lapar. Hanya mengenyangkan mereka-mereka di atas,
gong, gong, gong
tek, tek, tek
ayah pergi menebar jaring
di sini kami takut.
Kami semua takut. Takut ayah tak kunjung pulang, takut adik kelaparan, takut ibu tak lagi menyinarkan kehangatannya kepada kami dan takut kehilangan kehangatan rumah. Ayah berlayar ketika hari cerah, namun beberapa jam kemudian langit mulai menghitam, membawa suasana kelabu pada hari kami. Aku khawatir, dan semua yang keluarganya ditinggal melaut juga mulai khawatir.
Ada tiang kapal terlihat di sana. Akhirnya, ayah pulang, bisa kubayangkan betapa bahagianya ibu melihat kepulangan ayah, senangnya adik bisa menemani ayah di pelelangan ikan dan bantuanku bersama ibu membuat lauk. Tapi semua bayangan itu sirna, itu bukan kapal ayah, kapal itu kepunyaan teman akrab ayahku yang melaut bersama ayahku, mungkin hanya berbeda tempat mencari ikan. Perahunya lebih bagus dan lebih terawat daripada perahu ayahku. Kulihat kaca di ruang kemudi pecah, atap berwana merah yang hanya tinggal separuh dan lengan kiri Mas Rahman berdatah. Aku bingung, apa yang telah terjadi padanya. Tak sabar aku menemuinya dan kutanyakan di mana ayahku, Mas Rahman menunjuk ke sebuah ruang kecil di belakang kemudinya yang biasa digunakan Mas Rahman untuk beristirahat sejenak jika sedang melaut. Ayah terbaring.
Cuaca buruk, sangat buruk telah terjadi, Mas Rahman mendekati perahu ayah setelah mendapatkan panggilan radio bahwa bagai besar akan segera terjadi, dia meminta ayah untuk pulang. Ayah menyetujui dan langsung menyalakan mesin untuk pulang. Tapi badai keburu datang, kapal ayah terhempas gelombang besar yang membuatnya terbalik, Mas Danu, teman satu kapal ayah, tenggelam dan tersapu gelombang entah ke mana. Badan ayah terombang – ambing di atas kapal yang mengakibatkan kepalanya terbentur keras ujung kapal dan langsung tak sadarkan diri. Gelombang badai yang kedua mengakibatkan perahu ayah terhempas ke perahu Mas Rahman, membuat atapnya hancur lalu kembali ke laut. Ayah terjatuh di perahunya dan Mas Rahman langsung menarik ayah ke ruang kemudi. Yang kemudian Mas Rahman berjuang keras melawan ombak untuk kembali pulang.
Kuletakkan buku di atas pasir, mengangkat ayah ke tepat yang lebih kering. Kubaringkan ayah dan kututup lukanya dengan bajuku, mungkin bisa membantu. Tangan ayah dingin, kugenggam agar hangat selagi memeriksa denyut nadi ayah, “barangkali hanya pingsan”, pikirku. Orang – orang mulai mengerumuni kami, dan sibuk beragumen tentang keadaan ayah dan ada sebagian wanita yang menutup mulut dengan tangan mereka, mungkin mereka merasa terharu dengan keadaan ayahku. “Kita bawa saja ayahmu ke Puskesmas, mungkin masih bisa ditolong”, Kang Badrun menyahut. Tapi kurasa tidak perlu, aku sudah tak bisa merasakan kehangatan dalam tubuh ayah, sorot mata yang tajam seakan enggan menakuti lautan luas lagi. Aku menangis sejadinya, Mas Rahman hanya tertunduk samgbil memegang lengan kirinya yang tertancap kaca, masih mengeluarkan darah. Ayah telah tiada, tak ada lagi yang bisa menceriakan rumah, yang mengajari menjaring ikan dengan kasih saying. “Bahagiakanlah adikmu dan rawat ibu!”, kata terakhir ayah sebelum melaut, “Bahagiakanlah mereka!”, aku agak mereda. Kurasa tanggung jawab ini semua ada pada pundakku –harus kutanggung semua. Aku terima kepergian ayah lalu kututup buku.
Gong, gong, gong,
tek, tek, tek,
ayah sekarang duduk
nyanyian laut mendengkur
sekarang aku yang berdiri
: tegar
Desember ‘06
Filed under: Uncategorized Tagged: | cerita amatir, cerita pendek, cerpen
